Minggu, 03 April 2016

Kebudayaan Massa-4

Di Pasar Simpang seorang wanita kampung Cisitu bertanya kepada pemilik toko kain: "Yang luar negeri yang mana?"

Dalam budaya massa, nilai "luar negeri" berkedudukan sangat tinggi. Aneka keuntungan dagang dan kesempatan dan kedudukan bisa diperoleh dengan sebutan "luar negeri" ini. Bunyinya indah dan mengagumkan, misalnya "bikinan luar negeri", "assembling luar negeri", "mau ke luar negeri", "baru datang dari luar negeri", "dikirim ke luar negeri", "sengaja didatangkan dari luar negeri", "berijazah luar negeri", "bahan-bahan dari luar negeri", "berpengalaman luar negeri", "sudah mengadakan show di luar negeri" ... pokoknya, kombinasinya tak ada habis-habisnya. Saya kenal seorang puteri Bandung yang diajak melancong ke pulau Bali. Eh, si kenes protes. "Ke luar negeri saja dong mas!" 

Banyak sarjana merasa malu sekali kalau belum "dikirim ke luar negeri". Untuk apa? "Untuk apa sajalah", kata seseorang. Studi kek, konferensi kek, pameran kek. Dalam film-film Indonesia bikinan 1976 anda bisa melihat arsitek Indonesia "lulusan luar negeri", dokter Indonesia yang "melanjutkan studi di London", dan cewek kampung yang mau dikirim ayahnya "belajar piano di luar negeri". Massa penonton tambah yakin bahwa superman dan superwoman Indonesia ialah yang godokan luar negeri atau pernah senggolan di luar negeri.

Menanjak pula gengsinya ialah kata "internasional" atau international. Ini terbukti bisa melenyapkan segala keraguan akan mutu dan karena itu pula mendatangkan segala rupa keuntungan. Kita cukup mengatakan bahwa suatu barang itu punya "rasa internasional", cocok dengan "selera internasional", tentunya karena mutunya "internasional". Sangat mengagumkan ialah apa-apa yang "bertaraf internasional". 

Kita sampai punya "hotel internasional", dan tidak punya "hotel nasional". Ini bukan karena kelupaan, tapi karena sebutan "nasional" dalam pandangan pemerintah tidak begitu menguntungkan. Jelasnya, memalukan. Banyak barang dan perusahaan karena itu juga menggunakan kata international, buat nama ataupun buat keterangan. Ditambah dengan istilah export quality maka sempurnalah segalanya. Seorang kawan menghidangkan secangkir minuman teh kepada saya. "Ini teh dalam negeri, tapi buat ekspor lho mas!" Nah, terang dia terkicuh oleh istilah export quality. Sangkanya "buat ekspor". Jadi, selain berbangga dengan barang luar negeri, sekarang kita juga bisa bangga dengan barang buat-ekspor atau mutu-ekspor.
***
Nilai yang terus memassa sekarang ini ialah apa yang disebut modern. Segala yang modern itu menyenangkan, membahagiakan, memajukan, memudakan, menyegarkan, meningkatkan martabat, mengintelekkan, dan tidak ayal lagi mendatangkan segala rupa keuntungan. Orang kurang percaya, kurang senang, dan malu kepada yang tidak modern. Setiap barang itu mesti dijelaskan hubungannya dengan "hidup moderen", atau ... ya, kombinasinya juga tak ada habisnya. Misalnya rokok, minuman, obat, minyak rambut, minyak angin dan beribu-ibu barang lainnya. Orang harus nampak moderen supaya jangan disangka bodoh, kampungan, kolot dan "ketinggalan". Orang yang nampak moderen bisa ketemu dengan yang paling sulit ditemui, bisa masuk ke ruangan yang paling sulit dimasuki, bisa memperoleh yang paling sulit diperoleh, bisa mudah mendapat kepercayaan, dan bisa membanggakan orang lain (misalnya pacar atau suami). 

Bayangkan suatu gedung moderen, entah gedung pemerintah atau lainnya. Orang moderen mudah memasukinya. Orang yang berdandan dan bergaya kolot akan ditahan di pintu, dipandang dari ikat kepala ke sendal, dicurigai, ditanyai, dan mungkin juga disangka sinting. Jangan harap dia bisa ketemu sang pejabat. Percobaan ini pernah saya jalankan sendiri dengan sangat berhasil. Artinya, saya berhasil dianggap sebagai orang tidak waras dan berhasil disuruh berputar 180 derajat oleh penjaga pintu. Itu bila saya mengolot dan mendusun. Besoknya saya memoderen (antara lain pakai kaca mata hitam), dan sang penjaga malah mengantarkan saya ke kantor sang direktur.

Pelacur di pinggir jalan sekarang berdandan super-modern. Sepuluh tahun yang lalu semua masih berkebaya, berselendang dan bersanggul. Jelas ini untuk memperdaya lelaki yang sekarang  sudah berubah impiannya. Bukan saja mimpi bermain dengan perempuan, tapi dengan yang "terpelajar" dan "moderen" dan pantas diajak ke tempat-tempat modern. Membawa perempuan yang berkebaya sekarang ini juga sudah mencurigakan, atau memalukan, kecuali tentu pada semacam "acara resmi". Dalam film Indonesia, yang berkebaya atau bersarung hampir selalu yang rendah derajatnya, yang bodoh, yang "dari kampung" dan yang kolot. Dengan demikian massa belajar menilai manusia. Yang untung tentu saja lapisan "manusia moderen" dan bangsawan kaget. Massa penonton yang bernama "rakyat jelata" terus disadarkan di mana tempat mereka sebenarnya dalam Indonesia Baru ini.

Bagi massa, kata modern tentu punya artinya sendiri, dan arti inilah yang kurang lebih kita maksud dalam bagian karangan ini. Seilmiah-ilmiah arti ini hanyalah sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu periklanan saja. Hasil pemikiran dan penelitian Alex Inkeles misalnya (tentang manusia modern) tentulah kurang sesuai dengan apa yang kita gambarkan di sini. 
***
Teknologi luap-produksi yang bergandengan dengan nafsu untung harus menyodorkan dewa baru. Namanya: "Baru". Nalarnya, hanya dengan pendewaan "yang baru" oleh massa maka produksi bisa jalan terus dan untung mengalir terus. Budaya "baru" ini tentu paling subur di dunia barang, dan tidak di alam mujarad seperti pikiran dan kepercayaan. Pembaruan ilmu dan teknologi niscaya menghasilkan pembaruan barang, tapi seringkali pembaruan yang membanjiri kita itu hanya perubahan lahir saja. Misalnya sekadar perubahan bentuk, atau warna, atau ukuran, atau gaya, atau bahan, atau susunan. Dalam waktu cepat, sodoran luar yang menggebu menghasilkan nafsu dalam. Maka manusia memiliki nafsu baru, ialah nafsu "minta yang baru". 

Kita menyebutnya nafsu, karena ini menghendaki pemuasan teratur, cepat, dan bahkan makin cepat; artinya, dalam jangka waktu yang lebih pendek. Segala sesuatu tentu harus disesuaikan dengan kemampuan industri. Menghasilkan lagu baru jauhlah lebih mudah dari menghasilkan sepeda motor baru, maka setiap hari massa bisa saja disuguhi lagu baru. Nampaknya nafsu massa ini memang diatur dan direncanakan industri. Ini sudah lama kita alami sejak zaman melarat. Cuma, di zaman melarat nafsu ini terbatas pada dunia berita saja. Setiap pagi kita tunggu koran karena haus akan berita baru.

Sebagai pelengkap mutlak, industri juga harus menciptakan rasa bosan secara teratur. Orang tidak boleh terlalu lama terikat pada sesuatu hasil pabrik. Pada saatnya dia diperintah untuk merasa tidak suka dan bosan, lantas siap menerima yang baru. Misalnya baju dan sepatu, dan tentu saja lagu. Industri dan perancang baju sudah biasa merancang apa yang harus "dibosani" dan "ditinggalkan" massa dalam beberapa bulan mendatang. Supaya harga diri manusia tidak terlalu tersinggung, maka rancangan matang itu disebut saja "ramalan", seakan pembaruan baju itu bikinan Tuhan. 

Jiwa "bosanan" ini akhirnya bisa begitu berkuasa sehingga apa-apa yang sebenarnya masih baru atau baik sudah dibuang saja. Orang mulai lebih suka membuang dan mengganti daripada memperbaikii dan memelihara. Ini sejalan dengan meningkatnya kegemaran berbelanja dan "berbaru". Tempat duduk sepeda motor saya suatu ketika punya dua sobekan, masing-masing sepanjang empat senti. Ketika saya hendak menambalnya, seorang anak muda bernasehat, "Beli yang baru saja, oom!" Sungguh terperanjat saya ini. Kata seorang sarjana ITB kepada Farida, kawan saya, "Hayo kapan mau ganti mobil? Beli yang baru dong, tuh seperti yang lainnya. Ganti Volvo, Id!"

Singkatnya, massa suah mulai memaksa massa untuk lekas membaru. Yang tidak membaru menanggung parih disindir atau dipandang rendah atau dianggap ... nyentrik. Yang paling gembira dengan keadaan ini tentu bukan massa, tapi juragan industri dan pedagang.

Maka terdoronglah kita untuk mengatakan bahwa akibat semua ini ialah berkurangnya kesediaan ataupun kemampuan orang untuk menghargai yang lama atau yang langgeng. Sudah sering kita mendengar "seniman modern" mencaci-maki "seniman kolot", antara lain dalam diskusi seni di Taman Ismail Marzuki pada bulan Desember 1974. Buat massa, dengarlah ucapan penyair radio ini, yang pasti pernah anda dengar juga, "Maaf ya, berikut ini lagu lama, tapi rasanya masih enak didengar deh!" Coba pikir. Dia perlu-perlunya minta maaf dulu, seakan memutar lagu lama itu suatu dosa, dan seakan telinga massa pendengar pasti akan terganggu. Dan masih pula dia berikan alasan "masih enak", seakan apa yang lama itu mesti tidak enak.

Hasil pengamatan saya yang paling aneh ialah yang berikut ini. Ketika di sebuah perpustakaan departemen di ITB saya melihat ada banyak buku yang tidak tercatat dalam kartu, saya tanya kepada pustakawan, "Kenapa kartu-kartu ini masih belum lengkap?" Dan jawabnya adalah kejutan ITB paling menggemparkan, "Kami hanya membikin kartu untuk buku baru saja."

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon