Apakah semua buah budaya di dunia ini menghadapi pemassaan? Boleh jadi. Yang nampaknya tidak pernah memassa selama ini nyatanya juga kepingin memassa, misalnya masajalah sastra. Tapi tantangan kepada pemassaan selalu bakal ada. Ada orang yang kalau di daam massa merasa seperti ikan di dalam air, tapi ada pula yang merasa tenggelam dan mati.
Untuk risalah pendek ini contoh-contoh yang bisa kita ambil cuma sedikit. Ada yang jelas, ada yang kurang jelas hubungannya dengan batasan yang telah kita berikan. Kalau mengenai apa-apa yang sudah begitu bersengkarut, kita memang tidak tahu lagi apakah itu telur atau ayam.
Nada Barat. Ada keinginan kuat sekarang ini untuk memberi nada asing kepada segalanya, dan kita tahu bahwa pemassa budaya memang menarik untung dari keadaan ini. Karena asingnya itu Barat, maka gejala ini bisa juga kita sebut pembaratan. Bukan tempatnya di sini untuk menguraikan sebab-sebabnya. Yang terasa pada pembaratan itu ialah kepercayaan, kebanggaan dan peninggian harkat. Pembaratan ialah cara untuk menyatakan keunggulan, untuk menyadarkan mereka yang tidak mampu membarat bahwa mereka itu berkekurangan dan "ketinggalan" dan "terbelakang". Ini bisa dipakai sebagai cara berkuasa oleh lapisan atasan, dan cara menarik pembeli oleh pedagang. Untuk menipu massa ternyata bisa juga.
Pembaratan nama menjadi biasa. Tapi dayanya selalu mempesonakan saja. Kalau Firdaus Badawi ingin menjadi penyanyi sukses, sebaiknya dia ganti nama saja jadi "Ferdi Balada" misalnya. Segala yang berbauk musik pop juga harus dibaratkan. Kalau mempribumi, nanti disangka kampungan, dan nasibnya bisa tidak laku atau dibayar murah. Nama band atau group atau vocal group mesti The Stinker's atau The The The lainnya. Dari pada menyebut "dinyanyikan oleh", lebih baik "vocal oleh" atau "vocal dipegang oleh". Penyanyi yang berhasrat menaikkan harga jualnya dan menembus ke kalangan tinggi harus hafal sejumlah lagu Barat. Cukup hafal kata-katanya saja, tak usah maknanya.
Pembaratan nama perusahaan, gedung, barang dan sebagainya meningkat. Banyak universitas sudah malu merekatkan nama resminya pada mobil dan barang-barang lain. Jadi bukan "Universitas Garut", tapi "Garut University". Inipun sekarang sudah mulai turun harga. Dari pada berbaju "Bandung University", lebih baik yang bertulis "University of California". Mahasiswa-mahasiswa mulau merengek kepada saya supaya mau menolong datangkan baju-baju kampus dari Barat. Sekelompok mahasiswa datang ke rumah saya minta pinjam baju-baju saya dari kampus Amerika. "Untuk ditiru lalu disablon," katanya.
Pembaratan atau penginggerisan sudah sangat umum dalam berbahasa dan beristilah. Pemerintah adalah peresminya yang giat dan tentu saja berpengaruh, misalnya dengan pembakuan istilah-sebutan "komersialisasi jabatan", "kontestan", "forum kontak komunikasi" dan ribuan lainnya. Pemassaan gado-gado Inggeris-Indonesia oleh kaum terpelajar bulan Mei yang lalu di TVRI misalnya berbunyi: "Dalam operasionilnya, masih diperlukan technical assistancy dari luar negeri ...", "Kami pecinta alam mengadakan peng-appeal-an ...", "Satu surat edaran yang menyebar di Institut Teknologi Bandung bulai Mei yang lalu antara lain menyebut kata "terproliferasi". Kejutan ini tidak dimengerti maknanya oleh semua mahasiswa dan sarjana yang kebetulan saya tanyai, tapi semua senang dan bangga. Penambahan bunyi-bunyi asing dalam bahasa dianggap memperkuat kebangsawanan golongan universitas dan mengukuhkan hak-hak istimewanya dalam masyarakat.
Penginggerisan ini sekarang tlah mengantarkan bangsa Indonesia ke suatu tahapan baru, yakni: menerangkan bahasa pribumi dengan bahasa Inggris. Ini baru mengejutkan saya ketikan pada tahun 1975 seorang redaktur majalah minta saya menerangkan arti sederetan kata-kata Indonesia yang saya pakai dalam tulisan untuk majalah tersebut. Kata saya kepada sang redaktur, semua sebetulnya ada dalam kamus Purwadarminta, tapi baiklah. Maka di belakang setiap kata pribumi itu saya bubuhi terjemahan dalam bahasa Inggris. Nah, barulah pak redaktur mengerti. Dan sekarang ini sudah menjadi kebiasaan, misalnya dalam surat edaran ITB yang saya singgung tadi. Dalam suatu siaran Orkes Simfoni Jakarta penyiar TVRI dengan sedapnya menerangkan bahwa "A-Sing-Sing So ialah suatu boat song". Mudah-mudahan saja penonton yang tidak mengerti Batak mengerti Inggris.
Tapi lantas saya fikir, adakah barangkali udangnya di balik batu yang satu ini? Ya. Ini adalah suatu cara baru untuk meyakinkan orang bahwa sang penulis atau pembicara itu tidak bodoh. Tandanya, dia tahu Inggrisnya kata-kata Indonesia.
Perlu dicatat bahwa penginggerisan ini bukan berarti penguasaan bahasa Inggris. Dahulu dan sekarang orang Indonesia yang bahasanya membelanda pada umumnya menguasai bahasa Belanda. Misalnya mampu membaca majalah dan buku Belanda, dan kalau perlu bisa nyerocos juga dalam bahasa Belanda. Keadaan sekarang sangat berbeda. Sebagian besar yang doyan bumbu Inggris terbukti tidak menguasai bahasa Inggris tingkat paling sederhana sekalipun. Maka jelas bahwa tujuan pamer bunyi-bunyi asing oleh kalangan kampus, misalnya, bukannya untuk menguasai ilmu, tapi untuk terus meyakinkan seluruh bangsa akan siapa-siapa yang kini sebenarnya berhak menduduki tingkat bangsawan. Jelasnya, tingkat "Bangsawan Mendadak" atau "Bangsawan Kaget".
Untuk risalah pendek ini contoh-contoh yang bisa kita ambil cuma sedikit. Ada yang jelas, ada yang kurang jelas hubungannya dengan batasan yang telah kita berikan. Kalau mengenai apa-apa yang sudah begitu bersengkarut, kita memang tidak tahu lagi apakah itu telur atau ayam.
Nada Barat. Ada keinginan kuat sekarang ini untuk memberi nada asing kepada segalanya, dan kita tahu bahwa pemassa budaya memang menarik untung dari keadaan ini. Karena asingnya itu Barat, maka gejala ini bisa juga kita sebut pembaratan. Bukan tempatnya di sini untuk menguraikan sebab-sebabnya. Yang terasa pada pembaratan itu ialah kepercayaan, kebanggaan dan peninggian harkat. Pembaratan ialah cara untuk menyatakan keunggulan, untuk menyadarkan mereka yang tidak mampu membarat bahwa mereka itu berkekurangan dan "ketinggalan" dan "terbelakang". Ini bisa dipakai sebagai cara berkuasa oleh lapisan atasan, dan cara menarik pembeli oleh pedagang. Untuk menipu massa ternyata bisa juga.
Pembaratan nama menjadi biasa. Tapi dayanya selalu mempesonakan saja. Kalau Firdaus Badawi ingin menjadi penyanyi sukses, sebaiknya dia ganti nama saja jadi "Ferdi Balada" misalnya. Segala yang berbauk musik pop juga harus dibaratkan. Kalau mempribumi, nanti disangka kampungan, dan nasibnya bisa tidak laku atau dibayar murah. Nama band atau group atau vocal group mesti The Stinker's atau The The The lainnya. Dari pada menyebut "dinyanyikan oleh", lebih baik "vocal oleh" atau "vocal dipegang oleh". Penyanyi yang berhasrat menaikkan harga jualnya dan menembus ke kalangan tinggi harus hafal sejumlah lagu Barat. Cukup hafal kata-katanya saja, tak usah maknanya.
Pembaratan nama perusahaan, gedung, barang dan sebagainya meningkat. Banyak universitas sudah malu merekatkan nama resminya pada mobil dan barang-barang lain. Jadi bukan "Universitas Garut", tapi "Garut University". Inipun sekarang sudah mulai turun harga. Dari pada berbaju "Bandung University", lebih baik yang bertulis "University of California". Mahasiswa-mahasiswa mulau merengek kepada saya supaya mau menolong datangkan baju-baju kampus dari Barat. Sekelompok mahasiswa datang ke rumah saya minta pinjam baju-baju saya dari kampus Amerika. "Untuk ditiru lalu disablon," katanya.
Pembaratan atau penginggerisan sudah sangat umum dalam berbahasa dan beristilah. Pemerintah adalah peresminya yang giat dan tentu saja berpengaruh, misalnya dengan pembakuan istilah-sebutan "komersialisasi jabatan", "kontestan", "forum kontak komunikasi" dan ribuan lainnya. Pemassaan gado-gado Inggeris-Indonesia oleh kaum terpelajar bulan Mei yang lalu di TVRI misalnya berbunyi: "Dalam operasionilnya, masih diperlukan technical assistancy dari luar negeri ...", "Kami pecinta alam mengadakan peng-appeal-an ...", "Satu surat edaran yang menyebar di Institut Teknologi Bandung bulai Mei yang lalu antara lain menyebut kata "terproliferasi". Kejutan ini tidak dimengerti maknanya oleh semua mahasiswa dan sarjana yang kebetulan saya tanyai, tapi semua senang dan bangga. Penambahan bunyi-bunyi asing dalam bahasa dianggap memperkuat kebangsawanan golongan universitas dan mengukuhkan hak-hak istimewanya dalam masyarakat.
Penginggerisan ini sekarang tlah mengantarkan bangsa Indonesia ke suatu tahapan baru, yakni: menerangkan bahasa pribumi dengan bahasa Inggris. Ini baru mengejutkan saya ketikan pada tahun 1975 seorang redaktur majalah minta saya menerangkan arti sederetan kata-kata Indonesia yang saya pakai dalam tulisan untuk majalah tersebut. Kata saya kepada sang redaktur, semua sebetulnya ada dalam kamus Purwadarminta, tapi baiklah. Maka di belakang setiap kata pribumi itu saya bubuhi terjemahan dalam bahasa Inggris. Nah, barulah pak redaktur mengerti. Dan sekarang ini sudah menjadi kebiasaan, misalnya dalam surat edaran ITB yang saya singgung tadi. Dalam suatu siaran Orkes Simfoni Jakarta penyiar TVRI dengan sedapnya menerangkan bahwa "A-Sing-Sing So ialah suatu boat song". Mudah-mudahan saja penonton yang tidak mengerti Batak mengerti Inggris.
Tapi lantas saya fikir, adakah barangkali udangnya di balik batu yang satu ini? Ya. Ini adalah suatu cara baru untuk meyakinkan orang bahwa sang penulis atau pembicara itu tidak bodoh. Tandanya, dia tahu Inggrisnya kata-kata Indonesia.
Perlu dicatat bahwa penginggerisan ini bukan berarti penguasaan bahasa Inggris. Dahulu dan sekarang orang Indonesia yang bahasanya membelanda pada umumnya menguasai bahasa Belanda. Misalnya mampu membaca majalah dan buku Belanda, dan kalau perlu bisa nyerocos juga dalam bahasa Belanda. Keadaan sekarang sangat berbeda. Sebagian besar yang doyan bumbu Inggris terbukti tidak menguasai bahasa Inggris tingkat paling sederhana sekalipun. Maka jelas bahwa tujuan pamer bunyi-bunyi asing oleh kalangan kampus, misalnya, bukannya untuk menguasai ilmu, tapi untuk terus meyakinkan seluruh bangsa akan siapa-siapa yang kini sebenarnya berhak menduduki tingkat bangsawan. Jelasnya, tingkat "Bangsawan Mendadak" atau "Bangsawan Kaget".

EmoticonEmoticon