Oleh Sudjoko
Kemudian sering pula disebut istilah manusia massa. Makhluk apa pula ini? Nalarnya, kebudayaan itu tak mungkin memassa tanpa ada manusia massa. Masuk akal juga. Istilah ini membasahi pena para psikolog dan sosiolog, khususnya bila mereka sedang menuliskan hal-hal yang ngeri mengenai manusia. Muka sang budayawan bisa merah padam kalau harus melayani "manusia massa". Tapi bagi politikus, manusia massa itu kawan sehidup-semati dan sekaligus suara Tuhan. Vox Populi Vox Dei. Tak seberapa beda dari itu ialah pandangan pedagang yang menganggap manusia massa itu sebagai harta karun.
Barangkali memang kita harus mengumpulkan pendapat para massa kebudayaan juga kalau kita ingin tahu apa itu "manusia massa". Benar atau salah, ilmiah atau tidak, mereka itu tidak bisa main-main saja. Mereka harus membentuk pengertian tertentu mengenai manusia massa kalau mereka memang ingin berhasil. Cukong film berkata "rakyat maunya film-film yang begini dan bukan yang begitu." Bagi kuli tinta "yang paling laris ialah bacaan yang isinya ada ininya dan itunya." Manusia massa pabrik baju tentu lain lagi. Baju tidak bertanya apakah pemakainya suka film porno atau baterai nomor satu di dunia, tapi apakah dia muda ditipu oleh cap yang katanya "luar negeri".
Kalau semua pihak sudah punya gambaran mengenai manusia massa, maka siapa yang bisa menjamin bahwa anda bukan manusia massa? Kalau anda suka sea food dan tidak suka makanan laut, anda tentulah manusia massa, kata pengusaha restoran. Begitu pula kalau anda suka sabun yang dipakai bintang film dan rokok yang diisap orang-orang yang sukses.
Memang, kita bisa memilih batasan yang sangat terbatas mengenai manusia massa dengan maksud supaya kita tidak masuk hitungannya. Itu namanya membikin teori buat enaknya sendiri saja. Saya jadi teringat kepada orang yang punya teori tentang hidup sederhana, "Kalau punya mobil, tidak usah tiga biji, dan tidak usah sedan yang besar-besar," katanya. Memang, kebetulan saja mobilnya bukan sedan yang besar, jadi dia bisa mengaku hidup sederhana.
Kebudayaan massa ialah pernyataan ataupun sebab kemajuan kebudayaan. Kemajuan teknologi menghasilkan luap-produksi dan luap-hasil dan murah-harga. Banyak barang yang kita pakai setiap hari diakai oleh jutaan orang lain. Pikiran dan perasaan kita mengenai barang-barang itu bisa sama pula bagi jutaan orang lain.
Kemajuan dalam niaga, perhubungan dan perkabaran meluapkan kabar, pengetahuan, tontonan, hiburan, selera, idaman, impian dan segala rupa keanehan. Tak ada hormat lagi kepada segala rupa baas pembeda dan pemisah. Seluruh dunia digenanginya dan diombang-ambingkannya. Semua kesibukan di seluruh dunia berhenti hanya untuk nonton kesibukan dua petinju: Mohammad Ali dan lawannya. Bang beca nonton, kepala negara nonton, dan semua bersorak pada saat yang sama. Dengan peningkatan penghasilan maka manusia mengundang banjir budaya ke rumahnya lewat radio, TV, pemutar pita kaset dan bacaan. Dan tentu bukan ke rumahnya saja. Rekaman yang sama kita dengar di taksi, di pantai, di hutan, di danau Patenggang, di Melbourne, di warung kopi, dan di Chicago. Entah bagaimana nanti di sorga dan neraka.
Selain itu, ke manapun mata-memandang, ke manapun kaki melangkah, di situ ada massa. Dengan meledaknya penduduk dunia, massa itu sangat menyolok dan menyesak dan menghimpit bagi setiap orang.
Membawa manfaat atau naas, massa dan kebudayaan massa itu terus menyertai hidup kita sehari-hari. Kalau anda ingin lari dari semua ini, dan anda menuju ke tempat sepi, di sana akan anda temui massa. Semua menjinjing radio transistor, semua mengunyah coklat, semua membuang kantong plastik, semua membaca cerita seks, semua menikmati gambar puteri ayu.
Kemudian sering pula disebut istilah manusia massa. Makhluk apa pula ini? Nalarnya, kebudayaan itu tak mungkin memassa tanpa ada manusia massa. Masuk akal juga. Istilah ini membasahi pena para psikolog dan sosiolog, khususnya bila mereka sedang menuliskan hal-hal yang ngeri mengenai manusia. Muka sang budayawan bisa merah padam kalau harus melayani "manusia massa". Tapi bagi politikus, manusia massa itu kawan sehidup-semati dan sekaligus suara Tuhan. Vox Populi Vox Dei. Tak seberapa beda dari itu ialah pandangan pedagang yang menganggap manusia massa itu sebagai harta karun.
Barangkali memang kita harus mengumpulkan pendapat para massa kebudayaan juga kalau kita ingin tahu apa itu "manusia massa". Benar atau salah, ilmiah atau tidak, mereka itu tidak bisa main-main saja. Mereka harus membentuk pengertian tertentu mengenai manusia massa kalau mereka memang ingin berhasil. Cukong film berkata "rakyat maunya film-film yang begini dan bukan yang begitu." Bagi kuli tinta "yang paling laris ialah bacaan yang isinya ada ininya dan itunya." Manusia massa pabrik baju tentu lain lagi. Baju tidak bertanya apakah pemakainya suka film porno atau baterai nomor satu di dunia, tapi apakah dia muda ditipu oleh cap yang katanya "luar negeri".
Kalau semua pihak sudah punya gambaran mengenai manusia massa, maka siapa yang bisa menjamin bahwa anda bukan manusia massa? Kalau anda suka sea food dan tidak suka makanan laut, anda tentulah manusia massa, kata pengusaha restoran. Begitu pula kalau anda suka sabun yang dipakai bintang film dan rokok yang diisap orang-orang yang sukses.
Memang, kita bisa memilih batasan yang sangat terbatas mengenai manusia massa dengan maksud supaya kita tidak masuk hitungannya. Itu namanya membikin teori buat enaknya sendiri saja. Saya jadi teringat kepada orang yang punya teori tentang hidup sederhana, "Kalau punya mobil, tidak usah tiga biji, dan tidak usah sedan yang besar-besar," katanya. Memang, kebetulan saja mobilnya bukan sedan yang besar, jadi dia bisa mengaku hidup sederhana.
Kebudayaan massa ialah pernyataan ataupun sebab kemajuan kebudayaan. Kemajuan teknologi menghasilkan luap-produksi dan luap-hasil dan murah-harga. Banyak barang yang kita pakai setiap hari diakai oleh jutaan orang lain. Pikiran dan perasaan kita mengenai barang-barang itu bisa sama pula bagi jutaan orang lain.
Kemajuan dalam niaga, perhubungan dan perkabaran meluapkan kabar, pengetahuan, tontonan, hiburan, selera, idaman, impian dan segala rupa keanehan. Tak ada hormat lagi kepada segala rupa baas pembeda dan pemisah. Seluruh dunia digenanginya dan diombang-ambingkannya. Semua kesibukan di seluruh dunia berhenti hanya untuk nonton kesibukan dua petinju: Mohammad Ali dan lawannya. Bang beca nonton, kepala negara nonton, dan semua bersorak pada saat yang sama. Dengan peningkatan penghasilan maka manusia mengundang banjir budaya ke rumahnya lewat radio, TV, pemutar pita kaset dan bacaan. Dan tentu bukan ke rumahnya saja. Rekaman yang sama kita dengar di taksi, di pantai, di hutan, di danau Patenggang, di Melbourne, di warung kopi, dan di Chicago. Entah bagaimana nanti di sorga dan neraka.
Selain itu, ke manapun mata-memandang, ke manapun kaki melangkah, di situ ada massa. Dengan meledaknya penduduk dunia, massa itu sangat menyolok dan menyesak dan menghimpit bagi setiap orang.
Membawa manfaat atau naas, massa dan kebudayaan massa itu terus menyertai hidup kita sehari-hari. Kalau anda ingin lari dari semua ini, dan anda menuju ke tempat sepi, di sana akan anda temui massa. Semua menjinjing radio transistor, semua mengunyah coklat, semua membuang kantong plastik, semua membaca cerita seks, semua menikmati gambar puteri ayu.

EmoticonEmoticon