Rabu, 30 Maret 2016

Kebudayaan Massa

Oleh Sudjoko | 
Sumber: Majalah Prisma, Edisi 6 Juni 1977


SEBETULNYA saya tidak tahu apa arti massa. Maksud saya, sebagaimana banyak orang, saya bisa merasa bahwa saya tahu artinya, tapi begitu perasaan itu hendak dituangkan ke dalam batasan, lalu macet.

Apa itu massa? Apa bedanya dengan gerombolan? Dengan rakyat? Dengan khalayak, masyarakat, murba dan sebagainya? Namun selama ini kita mudah saja menyebut massa rakyat, massa petani, massa pelajar, massa buruh. Tanggal 19 April 1977 di TVRI, Prof. Doddy Tisna Amidjaja menyebut "kesenian secara massal, seperti paduan suara, karawitan dan lain-lain." Apakah ini berarti bahwa rombongan paduan suara atau karawitan itu massa? Apakah massa itu rombongan? Golongan? Gerakan? Partai? Paguyuban? Lapisan masyarakat? Kelas? Pernah ada istilah resmi yang bunyinya "ormas", singkatan dari "organisasi massa", dan ketika itu nampaknya segala organisasi yang mengaku punya anggota banyak disebut "ormas".

Revolusi massa Ortega Y. Gasset ternyata juga tidak dilancarkan oleh apa yang kerap disebut massa revolusioner. Satu terjemahan buku Ortega itu berbunyi De Opstand der Horden. Nah, jadi massa itu juga horde, atau herd. Tadinya saya sangka itu dipakai untuk dunia hewan saja. Jadi kalau horde itu dipakai untuk menggambarkan massa manusia, maka tentunya ada anggapan bahwa manusia itu bisa menghewan juga. Memang kita sering baca bahwa manusia itu punya herd instinct, misalnya. Istilah "massa" ini kerapkali memang sarat dengan renjana, prasangka, dan terutama buruksangka. Belum apa-apa sudah langsung diberi angka merah. Atau angka hitam. Soalnya, siapa yang memberi angka.

Ditilik secara permana saja, berapa besar massa itu? Ruaknya bagaimana? Bisakah sedunia? Se-Asia? Se-Indonesia? Sebagian besar penduduk Indonesia? Kalau ruaknya sekota atau sekampung saja, masih bisakah disebut "massa"? Dapatkah rakyat penonton di sekitar lapangan sepakbola itu disebut massa? Bagaimana kalau sebanyak demonstran yang turun ke jalanan? Ya, segala-galanya rupanya bisa, asal saja maksudnya "banyak sekali orang".

Tapi nanti dulu. Kalau di dean "massa" itu dipasang kata "kebudayaan", kita mulai bimbang lagi. Apakah ulah yang terbatas pada segerombolan manusia itu bisa tergolong kebudayaan massa? Kalau tidak bisa, lantas bisanya bagaimana? Apakah baru kalau ulah itu nampak umum di Bandung? Atau di Jawa Barat? Atau mestikah dia meng-Indonesia dulu supaya bisa disebut kebudayaan massa?

Sudah begitu kita masih juga menghadapi kaum Tidak semua begitu, artinya yang gemar membantah dengan alasan "tidak semua begitu". Jadi kalau ada yang berkata bahwa bangsa Indonesia itu malas, maka pembantah ini berkata: "Tidak benar. Buktinya, pacar saya rajin, dan tukang kebun saya juga rajin." Bagi mereka tentunya tidak ada yang disebut "kebudayaan massa", sebab "paman saya atau tante saya terbukti tidak ikut kebudayaan massa".

Massa itu tentu bukan sekadar "banyak sekali orang" saja. Mereka mesti punya apa-apa yang sama. Bukan keseluruhan manusia itu yang harus sama, tapi sekadar "satu dan lain hal" saja pada manusia itu. "Apa-apa yang sama" itu tidak mesti selamanya "sama". Kalau "sama" pada saat-saat tertentu saja, atau dalam keadaan-keadaan tertentu saja, itu masih juga bisa kita terima. Misalnya, baju saya bisa sama dengan baju seratus juta orang Amerika, tapi itu hanya bisa saya berada di luar rumah. Itu pun baru mengenai sesuatu yang kentara. Yang tidak kentara bisa juga masuk hitungan kita, misalnya sejenis perasaan, atau kehendak.

Dalam psikologi massa, misalnya, sering dinyatakan bahwa manusia yang sehat akalnya mendadak bisa "kehilangan akalnya" bida dia berada dalam massa. Daya fikirnya mendadak merosot, dia jadi "gelap mata", dan sebagainya. Dan itupun kalau kita hanya ingin mencatat apa-apa yang nafi saja (dan itulah sumber sebutan horde). Tapi kenapa mesti hanya yang nafi saja? Apakah mencari kenafian ini sekadar kecenderungan psikolog saja? Atau sosiolog, atau budayawan? Banyak politikus dan budayawan ternyata suka juga menonjolkan apa-apa yang isbat mengenai massa. Mungkin soalnya terletak pada siapa yang menilai atau mengamati massa itu. Kacamatanya bagaimana.

Siapa massa itu? Itupun rupanya tergantung pada siapa yang menanyakannya. Massa itu lain bagi politikus, lain bagi pengarang buku, lain bagi pemusik, lain bagi pedagang, lain bagi pemasang iklan, lain bagi pembeli hak menyiarkan adu tinju Mohammad Ali. Dan yang disebut "massa" itu bisa punya pendapat sendiri mengenai siapa massa itu.

"Saya minta dibelikan celana paku, karena semua anak pakai celaka paku." Nah, dia punya gambaran terntu mengenai "semua anak" ini. Katakanlah "tidak ilmiah", tapi banyak perasaan dan anggapan dan keyakinan orang ilmuwan sekalipun juga tidak ilmiah. Jadi massa itu seringkali bukan apa-apa yang nyata ada, tapi apa-apa yang dirasa atau dianggap saja. Meskipun begitu, kekuatannya besar juga, dan itulah sebabnya sang ibu lantas langsung saja membelikan anaknya celana paku. Terserah kalau ini mau disebut kekuatan jiwani, atau kekuatan ekonomi. Selain itu massa sering sekadar ciptaan orang saja. Pemasang iklan sering menciptakan massa kalau dia berteriak, "Seluruh dunia sudah menonton King Kong ... Apakah anda mau ketinggalan?" Dicipta sebagai teriakan, tercipta sebagai akibat teriakan ini. Itulah massa.

Sambungan

This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon