Minggu, 03 April 2016

Kebudayaan Massa-4

Di Pasar Simpang seorang wanita kampung Cisitu bertanya kepada pemilik toko kain: "Yang luar negeri yang mana?"

Dalam budaya massa, nilai "luar negeri" berkedudukan sangat tinggi. Aneka keuntungan dagang dan kesempatan dan kedudukan bisa diperoleh dengan sebutan "luar negeri" ini. Bunyinya indah dan mengagumkan, misalnya "bikinan luar negeri", "assembling luar negeri", "mau ke luar negeri", "baru datang dari luar negeri", "dikirim ke luar negeri", "sengaja didatangkan dari luar negeri", "berijazah luar negeri", "bahan-bahan dari luar negeri", "berpengalaman luar negeri", "sudah mengadakan show di luar negeri" ... pokoknya, kombinasinya tak ada habis-habisnya. Saya kenal seorang puteri Bandung yang diajak melancong ke pulau Bali. Eh, si kenes protes. "Ke luar negeri saja dong mas!" 

Banyak sarjana merasa malu sekali kalau belum "dikirim ke luar negeri". Untuk apa? "Untuk apa sajalah", kata seseorang. Studi kek, konferensi kek, pameran kek. Dalam film-film Indonesia bikinan 1976 anda bisa melihat arsitek Indonesia "lulusan luar negeri", dokter Indonesia yang "melanjutkan studi di London", dan cewek kampung yang mau dikirim ayahnya "belajar piano di luar negeri". Massa penonton tambah yakin bahwa superman dan superwoman Indonesia ialah yang godokan luar negeri atau pernah senggolan di luar negeri.

Menanjak pula gengsinya ialah kata "internasional" atau international. Ini terbukti bisa melenyapkan segala keraguan akan mutu dan karena itu pula mendatangkan segala rupa keuntungan. Kita cukup mengatakan bahwa suatu barang itu punya "rasa internasional", cocok dengan "selera internasional", tentunya karena mutunya "internasional". Sangat mengagumkan ialah apa-apa yang "bertaraf internasional". 

Kita sampai punya "hotel internasional", dan tidak punya "hotel nasional". Ini bukan karena kelupaan, tapi karena sebutan "nasional" dalam pandangan pemerintah tidak begitu menguntungkan. Jelasnya, memalukan. Banyak barang dan perusahaan karena itu juga menggunakan kata international, buat nama ataupun buat keterangan. Ditambah dengan istilah export quality maka sempurnalah segalanya. Seorang kawan menghidangkan secangkir minuman teh kepada saya. "Ini teh dalam negeri, tapi buat ekspor lho mas!" Nah, terang dia terkicuh oleh istilah export quality. Sangkanya "buat ekspor". Jadi, selain berbangga dengan barang luar negeri, sekarang kita juga bisa bangga dengan barang buat-ekspor atau mutu-ekspor.
***
Nilai yang terus memassa sekarang ini ialah apa yang disebut modern. Segala yang modern itu menyenangkan, membahagiakan, memajukan, memudakan, menyegarkan, meningkatkan martabat, mengintelekkan, dan tidak ayal lagi mendatangkan segala rupa keuntungan. Orang kurang percaya, kurang senang, dan malu kepada yang tidak modern. Setiap barang itu mesti dijelaskan hubungannya dengan "hidup moderen", atau ... ya, kombinasinya juga tak ada habisnya. Misalnya rokok, minuman, obat, minyak rambut, minyak angin dan beribu-ibu barang lainnya. Orang harus nampak moderen supaya jangan disangka bodoh, kampungan, kolot dan "ketinggalan". Orang yang nampak moderen bisa ketemu dengan yang paling sulit ditemui, bisa masuk ke ruangan yang paling sulit dimasuki, bisa memperoleh yang paling sulit diperoleh, bisa mudah mendapat kepercayaan, dan bisa membanggakan orang lain (misalnya pacar atau suami). 

Bayangkan suatu gedung moderen, entah gedung pemerintah atau lainnya. Orang moderen mudah memasukinya. Orang yang berdandan dan bergaya kolot akan ditahan di pintu, dipandang dari ikat kepala ke sendal, dicurigai, ditanyai, dan mungkin juga disangka sinting. Jangan harap dia bisa ketemu sang pejabat. Percobaan ini pernah saya jalankan sendiri dengan sangat berhasil. Artinya, saya berhasil dianggap sebagai orang tidak waras dan berhasil disuruh berputar 180 derajat oleh penjaga pintu. Itu bila saya mengolot dan mendusun. Besoknya saya memoderen (antara lain pakai kaca mata hitam), dan sang penjaga malah mengantarkan saya ke kantor sang direktur.

Pelacur di pinggir jalan sekarang berdandan super-modern. Sepuluh tahun yang lalu semua masih berkebaya, berselendang dan bersanggul. Jelas ini untuk memperdaya lelaki yang sekarang  sudah berubah impiannya. Bukan saja mimpi bermain dengan perempuan, tapi dengan yang "terpelajar" dan "moderen" dan pantas diajak ke tempat-tempat modern. Membawa perempuan yang berkebaya sekarang ini juga sudah mencurigakan, atau memalukan, kecuali tentu pada semacam "acara resmi". Dalam film Indonesia, yang berkebaya atau bersarung hampir selalu yang rendah derajatnya, yang bodoh, yang "dari kampung" dan yang kolot. Dengan demikian massa belajar menilai manusia. Yang untung tentu saja lapisan "manusia moderen" dan bangsawan kaget. Massa penonton yang bernama "rakyat jelata" terus disadarkan di mana tempat mereka sebenarnya dalam Indonesia Baru ini.

Bagi massa, kata modern tentu punya artinya sendiri, dan arti inilah yang kurang lebih kita maksud dalam bagian karangan ini. Seilmiah-ilmiah arti ini hanyalah sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu periklanan saja. Hasil pemikiran dan penelitian Alex Inkeles misalnya (tentang manusia modern) tentulah kurang sesuai dengan apa yang kita gambarkan di sini. 
***
Teknologi luap-produksi yang bergandengan dengan nafsu untung harus menyodorkan dewa baru. Namanya: "Baru". Nalarnya, hanya dengan pendewaan "yang baru" oleh massa maka produksi bisa jalan terus dan untung mengalir terus. Budaya "baru" ini tentu paling subur di dunia barang, dan tidak di alam mujarad seperti pikiran dan kepercayaan. Pembaruan ilmu dan teknologi niscaya menghasilkan pembaruan barang, tapi seringkali pembaruan yang membanjiri kita itu hanya perubahan lahir saja. Misalnya sekadar perubahan bentuk, atau warna, atau ukuran, atau gaya, atau bahan, atau susunan. Dalam waktu cepat, sodoran luar yang menggebu menghasilkan nafsu dalam. Maka manusia memiliki nafsu baru, ialah nafsu "minta yang baru". 

Kita menyebutnya nafsu, karena ini menghendaki pemuasan teratur, cepat, dan bahkan makin cepat; artinya, dalam jangka waktu yang lebih pendek. Segala sesuatu tentu harus disesuaikan dengan kemampuan industri. Menghasilkan lagu baru jauhlah lebih mudah dari menghasilkan sepeda motor baru, maka setiap hari massa bisa saja disuguhi lagu baru. Nampaknya nafsu massa ini memang diatur dan direncanakan industri. Ini sudah lama kita alami sejak zaman melarat. Cuma, di zaman melarat nafsu ini terbatas pada dunia berita saja. Setiap pagi kita tunggu koran karena haus akan berita baru.

Sebagai pelengkap mutlak, industri juga harus menciptakan rasa bosan secara teratur. Orang tidak boleh terlalu lama terikat pada sesuatu hasil pabrik. Pada saatnya dia diperintah untuk merasa tidak suka dan bosan, lantas siap menerima yang baru. Misalnya baju dan sepatu, dan tentu saja lagu. Industri dan perancang baju sudah biasa merancang apa yang harus "dibosani" dan "ditinggalkan" massa dalam beberapa bulan mendatang. Supaya harga diri manusia tidak terlalu tersinggung, maka rancangan matang itu disebut saja "ramalan", seakan pembaruan baju itu bikinan Tuhan. 

Jiwa "bosanan" ini akhirnya bisa begitu berkuasa sehingga apa-apa yang sebenarnya masih baru atau baik sudah dibuang saja. Orang mulai lebih suka membuang dan mengganti daripada memperbaikii dan memelihara. Ini sejalan dengan meningkatnya kegemaran berbelanja dan "berbaru". Tempat duduk sepeda motor saya suatu ketika punya dua sobekan, masing-masing sepanjang empat senti. Ketika saya hendak menambalnya, seorang anak muda bernasehat, "Beli yang baru saja, oom!" Sungguh terperanjat saya ini. Kata seorang sarjana ITB kepada Farida, kawan saya, "Hayo kapan mau ganti mobil? Beli yang baru dong, tuh seperti yang lainnya. Ganti Volvo, Id!"

Singkatnya, massa suah mulai memaksa massa untuk lekas membaru. Yang tidak membaru menanggung parih disindir atau dipandang rendah atau dianggap ... nyentrik. Yang paling gembira dengan keadaan ini tentu bukan massa, tapi juragan industri dan pedagang.

Maka terdoronglah kita untuk mengatakan bahwa akibat semua ini ialah berkurangnya kesediaan ataupun kemampuan orang untuk menghargai yang lama atau yang langgeng. Sudah sering kita mendengar "seniman modern" mencaci-maki "seniman kolot", antara lain dalam diskusi seni di Taman Ismail Marzuki pada bulan Desember 1974. Buat massa, dengarlah ucapan penyair radio ini, yang pasti pernah anda dengar juga, "Maaf ya, berikut ini lagu lama, tapi rasanya masih enak didengar deh!" Coba pikir. Dia perlu-perlunya minta maaf dulu, seakan memutar lagu lama itu suatu dosa, dan seakan telinga massa pendengar pasti akan terganggu. Dan masih pula dia berikan alasan "masih enak", seakan apa yang lama itu mesti tidak enak.

Hasil pengamatan saya yang paling aneh ialah yang berikut ini. Ketika di sebuah perpustakaan departemen di ITB saya melihat ada banyak buku yang tidak tercatat dalam kartu, saya tanya kepada pustakawan, "Kenapa kartu-kartu ini masih belum lengkap?" Dan jawabnya adalah kejutan ITB paling menggemparkan, "Kami hanya membikin kartu untuk buku baru saja."

Rabu, 30 Maret 2016

Kebudayaan Massa-3

Apakah semua buah budaya di dunia ini menghadapi pemassaan? Boleh jadi. Yang nampaknya tidak pernah memassa selama ini nyatanya juga kepingin memassa, misalnya masajalah sastra. Tapi tantangan kepada pemassaan selalu bakal ada. Ada orang yang kalau di daam massa merasa seperti ikan di dalam air, tapi ada pula yang merasa tenggelam dan mati.

Untuk risalah pendek ini contoh-contoh yang bisa kita ambil cuma sedikit. Ada yang jelas, ada yang kurang jelas hubungannya dengan batasan yang telah kita berikan. Kalau mengenai apa-apa yang sudah begitu bersengkarut, kita memang tidak tahu lagi apakah itu telur atau ayam.

Nada Barat. Ada keinginan kuat sekarang ini untuk memberi nada asing kepada segalanya, dan kita tahu bahwa pemassa budaya memang menarik untung dari keadaan ini. Karena asingnya itu Barat, maka gejala ini bisa juga kita sebut pembaratan. Bukan tempatnya di sini untuk menguraikan sebab-sebabnya. Yang terasa pada pembaratan itu ialah kepercayaan, kebanggaan dan peninggian harkat. Pembaratan ialah cara untuk menyatakan keunggulan, untuk menyadarkan mereka yang tidak mampu membarat bahwa mereka itu berkekurangan dan "ketinggalan" dan "terbelakang". Ini bisa dipakai sebagai cara berkuasa oleh lapisan atasan, dan cara menarik pembeli oleh pedagang. Untuk menipu massa ternyata bisa juga.

Pembaratan nama menjadi biasa. Tapi dayanya selalu mempesonakan saja. Kalau Firdaus Badawi ingin menjadi penyanyi sukses, sebaiknya dia ganti nama saja jadi "Ferdi Balada" misalnya. Segala yang berbauk musik pop juga harus dibaratkan. Kalau mempribumi, nanti disangka kampungan, dan nasibnya bisa tidak laku atau dibayar murah. Nama band atau group atau vocal group mesti The Stinker's atau The The The lainnya. Dari pada menyebut "dinyanyikan oleh", lebih baik "vocal oleh" atau "vocal dipegang oleh". Penyanyi yang berhasrat menaikkan harga jualnya dan menembus ke kalangan tinggi harus hafal sejumlah lagu Barat. Cukup hafal kata-katanya saja, tak usah maknanya.

Pembaratan nama perusahaan, gedung, barang dan sebagainya meningkat. Banyak universitas sudah malu merekatkan nama resminya pada mobil dan barang-barang lain. Jadi bukan "Universitas Garut", tapi "Garut University". Inipun sekarang sudah mulai turun harga. Dari pada berbaju "Bandung University", lebih baik yang bertulis "University of California". Mahasiswa-mahasiswa mulau merengek kepada saya supaya mau menolong datangkan baju-baju kampus dari Barat. Sekelompok mahasiswa datang ke rumah saya minta pinjam baju-baju saya dari kampus Amerika. "Untuk ditiru lalu disablon," katanya.

Pembaratan atau penginggerisan sudah sangat umum dalam berbahasa dan beristilah. Pemerintah adalah peresminya yang giat dan tentu saja berpengaruh, misalnya dengan pembakuan istilah-sebutan "komersialisasi jabatan", "kontestan", "forum kontak komunikasi" dan ribuan lainnya. Pemassaan gado-gado Inggeris-Indonesia oleh kaum terpelajar bulan Mei yang lalu di TVRI misalnya berbunyi: "Dalam operasionilnya, masih diperlukan technical assistancy dari luar negeri ...", "Kami pecinta alam mengadakan peng-appeal-an ...", "Satu surat edaran yang menyebar di Institut Teknologi Bandung bulai Mei yang lalu antara lain menyebut kata "terproliferasi". Kejutan ini tidak dimengerti maknanya oleh semua mahasiswa dan sarjana yang kebetulan saya tanyai, tapi semua senang dan bangga. Penambahan bunyi-bunyi asing dalam bahasa dianggap memperkuat kebangsawanan golongan universitas dan mengukuhkan hak-hak istimewanya dalam masyarakat.

Penginggerisan ini sekarang tlah mengantarkan bangsa Indonesia ke suatu tahapan baru, yakni: menerangkan bahasa pribumi dengan bahasa Inggris. Ini baru mengejutkan saya ketikan pada tahun 1975 seorang redaktur majalah minta saya menerangkan arti sederetan kata-kata Indonesia yang saya pakai dalam tulisan untuk majalah tersebut. Kata saya kepada sang redaktur, semua sebetulnya ada dalam kamus Purwadarminta, tapi baiklah. Maka di belakang setiap kata pribumi itu saya bubuhi terjemahan dalam bahasa Inggris. Nah, barulah pak redaktur mengerti. Dan sekarang ini sudah menjadi kebiasaan, misalnya dalam surat edaran ITB yang saya singgung tadi. Dalam suatu siaran Orkes Simfoni Jakarta penyiar TVRI dengan sedapnya menerangkan bahwa "A-Sing-Sing So ialah suatu boat song". Mudah-mudahan saja penonton yang tidak mengerti Batak mengerti Inggris.

Tapi lantas saya fikir, adakah barangkali udangnya di balik batu yang satu ini? Ya. Ini adalah suatu cara baru untuk meyakinkan orang bahwa sang penulis atau pembicara itu tidak bodoh. Tandanya, dia tahu Inggrisnya kata-kata Indonesia.

Perlu dicatat bahwa penginggerisan ini bukan berarti penguasaan bahasa Inggris. Dahulu dan sekarang orang Indonesia yang bahasanya membelanda pada umumnya menguasai bahasa Belanda. Misalnya mampu membaca majalah dan buku Belanda, dan kalau perlu bisa nyerocos juga dalam bahasa Belanda. Keadaan sekarang sangat berbeda. Sebagian besar yang doyan bumbu Inggris terbukti tidak menguasai bahasa Inggris tingkat paling sederhana sekalipun. Maka jelas bahwa tujuan pamer bunyi-bunyi asing oleh kalangan kampus, misalnya, bukannya untuk menguasai ilmu, tapi untuk terus meyakinkan seluruh bangsa akan siapa-siapa yang kini sebenarnya berhak menduduki tingkat bangsawan. Jelasnya, tingkat "Bangsawan Mendadak" atau "Bangsawan Kaget".

Kebudayaan Massa-2

Oleh Sudjoko

Kemudian sering pula disebut istilah manusia massa. Makhluk apa pula ini? Nalarnya, kebudayaan itu tak mungkin memassa tanpa ada manusia massa. Masuk akal juga. Istilah ini membasahi pena para psikolog dan sosiolog, khususnya bila mereka sedang menuliskan hal-hal yang ngeri mengenai manusia. Muka sang budayawan bisa merah padam kalau harus melayani "manusia massa". Tapi bagi politikus, manusia massa itu kawan sehidup-semati dan sekaligus suara Tuhan. Vox Populi Vox Dei. Tak seberapa beda dari itu ialah pandangan pedagang yang menganggap manusia massa itu sebagai harta karun.

Barangkali memang kita harus mengumpulkan pendapat para massa kebudayaan juga kalau kita ingin tahu apa itu "manusia massa". Benar atau salah, ilmiah atau tidak, mereka itu tidak bisa main-main saja. Mereka harus membentuk pengertian tertentu mengenai manusia massa kalau mereka memang ingin berhasil. Cukong film berkata "rakyat maunya film-film yang begini dan bukan yang begitu." Bagi kuli tinta "yang paling laris ialah bacaan yang isinya ada ininya dan itunya." Manusia massa pabrik baju tentu lain lagi. Baju tidak bertanya apakah pemakainya suka film porno atau baterai nomor satu di dunia, tapi apakah dia muda ditipu oleh cap yang katanya "luar negeri".

Kalau semua pihak sudah punya gambaran mengenai manusia massa, maka siapa yang bisa menjamin bahwa anda bukan manusia massa? Kalau anda suka sea food dan tidak suka makanan laut, anda tentulah manusia massa, kata pengusaha restoran. Begitu pula kalau anda suka sabun yang dipakai bintang film dan rokok yang diisap orang-orang yang sukses.



Memang, kita bisa memilih batasan yang sangat terbatas mengenai manusia massa dengan maksud supaya kita tidak masuk hitungannya. Itu namanya membikin teori buat enaknya sendiri saja. Saya jadi teringat kepada orang yang punya teori tentang hidup sederhana, "Kalau punya mobil, tidak usah tiga biji, dan tidak usah sedan yang besar-besar," katanya. Memang, kebetulan saja mobilnya bukan sedan yang besar, jadi dia bisa mengaku hidup sederhana.

Kebudayaan massa ialah pernyataan ataupun sebab kemajuan kebudayaan. Kemajuan teknologi menghasilkan luap-produksi dan luap-hasil dan murah-harga. Banyak barang yang kita pakai setiap hari diakai oleh jutaan orang lain. Pikiran dan perasaan kita mengenai barang-barang itu bisa sama pula bagi jutaan orang lain.

Kemajuan dalam niaga, perhubungan dan perkabaran meluapkan kabar, pengetahuan, tontonan, hiburan, selera, idaman, impian dan segala rupa keanehan. Tak ada hormat lagi kepada segala rupa baas pembeda dan pemisah. Seluruh dunia digenanginya dan diombang-ambingkannya. Semua kesibukan di seluruh dunia berhenti hanya untuk nonton kesibukan dua petinju: Mohammad Ali dan lawannya. Bang beca nonton, kepala negara nonton, dan semua bersorak pada saat yang sama. Dengan peningkatan penghasilan maka manusia mengundang banjir budaya ke rumahnya lewat radio, TV, pemutar pita kaset dan bacaan. Dan tentu bukan ke rumahnya saja. Rekaman yang sama kita dengar di taksi, di pantai, di hutan, di danau Patenggang, di Melbourne, di warung kopi, dan di Chicago. Entah bagaimana nanti di sorga dan neraka.

Selain itu, ke manapun mata-memandang, ke manapun kaki melangkah, di situ ada massa. Dengan meledaknya penduduk dunia, massa itu sangat menyolok dan menyesak dan menghimpit bagi setiap orang.

Membawa manfaat atau naas, massa dan kebudayaan massa itu terus menyertai hidup kita sehari-hari. Kalau anda ingin lari dari semua ini, dan anda menuju ke tempat sepi, di sana akan anda temui massa. Semua menjinjing radio transistor, semua mengunyah coklat, semua membuang kantong plastik, semua membaca cerita seks, semua menikmati gambar puteri ayu.

Kebudayaan Massa

Oleh Sudjoko | 
Sumber: Majalah Prisma, Edisi 6 Juni 1977


SEBETULNYA saya tidak tahu apa arti massa. Maksud saya, sebagaimana banyak orang, saya bisa merasa bahwa saya tahu artinya, tapi begitu perasaan itu hendak dituangkan ke dalam batasan, lalu macet.

Apa itu massa? Apa bedanya dengan gerombolan? Dengan rakyat? Dengan khalayak, masyarakat, murba dan sebagainya? Namun selama ini kita mudah saja menyebut massa rakyat, massa petani, massa pelajar, massa buruh. Tanggal 19 April 1977 di TVRI, Prof. Doddy Tisna Amidjaja menyebut "kesenian secara massal, seperti paduan suara, karawitan dan lain-lain." Apakah ini berarti bahwa rombongan paduan suara atau karawitan itu massa? Apakah massa itu rombongan? Golongan? Gerakan? Partai? Paguyuban? Lapisan masyarakat? Kelas? Pernah ada istilah resmi yang bunyinya "ormas", singkatan dari "organisasi massa", dan ketika itu nampaknya segala organisasi yang mengaku punya anggota banyak disebut "ormas".

Revolusi massa Ortega Y. Gasset ternyata juga tidak dilancarkan oleh apa yang kerap disebut massa revolusioner. Satu terjemahan buku Ortega itu berbunyi De Opstand der Horden. Nah, jadi massa itu juga horde, atau herd. Tadinya saya sangka itu dipakai untuk dunia hewan saja. Jadi kalau horde itu dipakai untuk menggambarkan massa manusia, maka tentunya ada anggapan bahwa manusia itu bisa menghewan juga. Memang kita sering baca bahwa manusia itu punya herd instinct, misalnya. Istilah "massa" ini kerapkali memang sarat dengan renjana, prasangka, dan terutama buruksangka. Belum apa-apa sudah langsung diberi angka merah. Atau angka hitam. Soalnya, siapa yang memberi angka.

Ditilik secara permana saja, berapa besar massa itu? Ruaknya bagaimana? Bisakah sedunia? Se-Asia? Se-Indonesia? Sebagian besar penduduk Indonesia? Kalau ruaknya sekota atau sekampung saja, masih bisakah disebut "massa"? Dapatkah rakyat penonton di sekitar lapangan sepakbola itu disebut massa? Bagaimana kalau sebanyak demonstran yang turun ke jalanan? Ya, segala-galanya rupanya bisa, asal saja maksudnya "banyak sekali orang".

Tapi nanti dulu. Kalau di dean "massa" itu dipasang kata "kebudayaan", kita mulai bimbang lagi. Apakah ulah yang terbatas pada segerombolan manusia itu bisa tergolong kebudayaan massa? Kalau tidak bisa, lantas bisanya bagaimana? Apakah baru kalau ulah itu nampak umum di Bandung? Atau di Jawa Barat? Atau mestikah dia meng-Indonesia dulu supaya bisa disebut kebudayaan massa?

Sudah begitu kita masih juga menghadapi kaum Tidak semua begitu, artinya yang gemar membantah dengan alasan "tidak semua begitu". Jadi kalau ada yang berkata bahwa bangsa Indonesia itu malas, maka pembantah ini berkata: "Tidak benar. Buktinya, pacar saya rajin, dan tukang kebun saya juga rajin." Bagi mereka tentunya tidak ada yang disebut "kebudayaan massa", sebab "paman saya atau tante saya terbukti tidak ikut kebudayaan massa".

Massa itu tentu bukan sekadar "banyak sekali orang" saja. Mereka mesti punya apa-apa yang sama. Bukan keseluruhan manusia itu yang harus sama, tapi sekadar "satu dan lain hal" saja pada manusia itu. "Apa-apa yang sama" itu tidak mesti selamanya "sama". Kalau "sama" pada saat-saat tertentu saja, atau dalam keadaan-keadaan tertentu saja, itu masih juga bisa kita terima. Misalnya, baju saya bisa sama dengan baju seratus juta orang Amerika, tapi itu hanya bisa saya berada di luar rumah. Itu pun baru mengenai sesuatu yang kentara. Yang tidak kentara bisa juga masuk hitungan kita, misalnya sejenis perasaan, atau kehendak.

Dalam psikologi massa, misalnya, sering dinyatakan bahwa manusia yang sehat akalnya mendadak bisa "kehilangan akalnya" bida dia berada dalam massa. Daya fikirnya mendadak merosot, dia jadi "gelap mata", dan sebagainya. Dan itupun kalau kita hanya ingin mencatat apa-apa yang nafi saja (dan itulah sumber sebutan horde). Tapi kenapa mesti hanya yang nafi saja? Apakah mencari kenafian ini sekadar kecenderungan psikolog saja? Atau sosiolog, atau budayawan? Banyak politikus dan budayawan ternyata suka juga menonjolkan apa-apa yang isbat mengenai massa. Mungkin soalnya terletak pada siapa yang menilai atau mengamati massa itu. Kacamatanya bagaimana.

Siapa massa itu? Itupun rupanya tergantung pada siapa yang menanyakannya. Massa itu lain bagi politikus, lain bagi pengarang buku, lain bagi pemusik, lain bagi pedagang, lain bagi pemasang iklan, lain bagi pembeli hak menyiarkan adu tinju Mohammad Ali. Dan yang disebut "massa" itu bisa punya pendapat sendiri mengenai siapa massa itu.

"Saya minta dibelikan celana paku, karena semua anak pakai celaka paku." Nah, dia punya gambaran terntu mengenai "semua anak" ini. Katakanlah "tidak ilmiah", tapi banyak perasaan dan anggapan dan keyakinan orang ilmuwan sekalipun juga tidak ilmiah. Jadi massa itu seringkali bukan apa-apa yang nyata ada, tapi apa-apa yang dirasa atau dianggap saja. Meskipun begitu, kekuatannya besar juga, dan itulah sebabnya sang ibu lantas langsung saja membelikan anaknya celana paku. Terserah kalau ini mau disebut kekuatan jiwani, atau kekuatan ekonomi. Selain itu massa sering sekadar ciptaan orang saja. Pemasang iklan sering menciptakan massa kalau dia berteriak, "Seluruh dunia sudah menonton King Kong ... Apakah anda mau ketinggalan?" Dicipta sebagai teriakan, tercipta sebagai akibat teriakan ini. Itulah massa.

Sambungan